Look up

Kamis, 17 April 2014

Unknown 04.43.00 , ,

Peta Banjarnegara
Dalam perang Diponegoro, R.Tumenggung Dipoyudo IV berjasa kepada pemerintah mataram, sehingga di usulkan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono VII untuk di tetapkan menjadi bupati banjar berdasarkan Resolutie Governeor General Buitenzorg tanggal 22 agustus 1831 nomor I, untuk mengisi jabatan Bupati Banjar yang telah dihapus setatusnya yang berkedudukan di Banjarmangu dan dikenal dengan Banjarwatulembu. Usul tersebut disetujui.

Persoalan meluapnya Sungai Serayu menjadi kendala yang menyulitkan komunikasi dengan Kasunanan Surakarta. Kesulitan ini menjadi sangat dirasakan menjadi beban bagi bupati ketika beliau harus menghadiri Pasewakan Agung pada saat-saat tertentu di Kasultanan Surakarta. Untuk mengatasi masalah ini diputuskan untuk memindahkan ibukota kabupaten ke selatan Sungai Serayu. Daerah Banjar (sekarang Kota Banjarnegara) menjadi pilihan untuk ditetapkan sebagai ibukota yang baru. Kondisi daerah yang baru ini merupakan persawahan yang luas dengan beberapa lereng yang curam. Di daerah persawahan (Banjar) inilah didirikan ibukota kabupaten (Negara) yang baru sehingga nama daerah ini menjadi Banjarnegara (Banjar : Sawah, Negara : Kota).

R.Tumenggung Dipoyuda menjabat Bupati sampai tahun 1846, kemudian diganti R. Adipati Dipodiningkrat, tahun 1878 pensiun. Penggantinya diambil dari luar Kabupaten Banjarnegara. Gubermen (pemerintahan) mengangkat Mas Ngabehi Atmodipuro, patih Kabupaten Purworejo(Bangelan) I Gung Kalopaking di panjer (Kebumen) sebagai penggantinya dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Jayanegara I. Beliau mendapat ganjaran pangkat "Adipati" dan tanda kehormatan "Bintang Mas" Tahun 1896 beliau wafat diganti putranya Raden Mas Jayamisena, Wedana distrik Singomerto (Banjarnegara) dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung JayanegaraII. Dari pemerintahan Belanda Raden Tumenggung Jayanegara II mendapat anugrah pangkat "Adipati Aria" Payung emas Bintang emas besar, Officer Oranye. Pada tahun 1927 beliau berhenti, pensiun. Penggantinya putra beliau Raden Sumitro Kolopaking Purbonegoro, yang juga mendapat anugrah sebutan Tumenggung Aria, beliau keturunan kanjeng R. Adipati Dipadingrat, berarti kabupaten kembali kepada keturunan para penguasa terdahulu. Diantara para Bupati Banjarnegara, Arya Sumitro Kolopaking yang menghayati 3 jaman, yaitu jaman Hindia Belanda, Jepang dan RI, dan menghayati serta menangani langsung Gelora Revolusi Nasional (1945 - 1949). Ia mengalami sebutan "Gusti Kanjeng Bupati", lalu "Banjarnegara Ken Cho" dan berakhir "Bapak Bupati". Selanjutnya yang menjadi Bupati setelah Raden Aria Sumtro Kolopaking Purbonegoro ialah : R. Adipati Dipadiningrat (1846-1878)

I. Kyai Ageng Maliu Pendiri Desa Banjar

Dalam riwayat berdirinya Kabupaten Banjarnegara disebutkan bahwa seorang tokoh masyarakat yang bernama Kyai Maliu sangat tertarik akan keindahan alam di sekitar Kali Merawu sebelah selatan jembatan Clangap (sekarang). Keindahan tersebut antara lain karena tanahnya berundak, berbanjar sepanjang kali.

Sejak saat itu, Kyai Maliu kemudian mendirikan pondok/rumah sebagai tempat tinggalnya yang baru. Setelah Kyai Maliu tinggal di tempat barunya tersebut, dalam waktu singkat disusul pula dengan berdirinya rumah-rumah penduduk yang lain disekitar pondok Kyai Maliu sehingga kemudian membentuk suatu perkampungan. Perkampungan tersebut terus berkembang waktu demi waktu yang akhirnya menjadi sebuah desa.

Desa baru tersebut kemudian dinamakan “BANJAR” sesuai dengan daerahnya yang berupa sawah yang berpetak-petak. Atas dasar musyawarah penduduk desa baru tersebut Kyai Maliu diangkat menjadi Pertinggi (Kepala Desa), sehingga kemudian dikenal dengan nama “Kyai Ageng Maliu Pertinggi Banjar”.

Keramaian dan kemajuan desa Banjar dibawah kepemimpinan Kyai Ageng Maliu semakin pesat tatkala kedatangan Kanjeng Pangeran Giri Wasiat, Panembahan Giri Pit dan Nyai Sekati yang sedang mengembara dalam rangka syiar agama Islam. Ketiganya merupakan putra Sunan Giri, raja di Giri Gajah Gresik yang bergelar Prabu Satmoko.

Sejak kedatangan Pangeran Giri Pit, Desa Banjar menjadi pusat pengembangan agama Islam. Kyai Ageng Maliu semakin bertambah kemampuannya dalam hal agama Islam dan dalam memimpin Desa Banjar. Karena kepemimpinannya itulah Desa Banjar semakin berkembang dan semakin ramai.

Desa Banjar yang didirikan oleh Kyai Ageng Maliu inilah pada akhirnya menjadi cikal bakal Kabupaten Banjarnegara.

II.     Awal Pemerintahan Kabupaten Banjarnegara

Setelah wafatnya Adipati Wargo Hutomo I (Adipati Wirasaba) dalam perjalanan pulang setelah menghadap Sultan Hadiwijoyo (Sultan Pajang) akibat adanya kesalahpahaman Utusan (Gandek) dari Kerajaan Pajang dalam mengartikan perintah Sultan Hadiwijoyo yang diperkuat dengan fitnah Demang Toyareka (Adik Adipati Wargo Hutomo), pucuk pimpinan Kabupaten Wirasaba mengalami kekosongan. Untuk selanjutnya Kabupaten Wirasaba dipimpin oleh Patih yang telah mewakili Adipati sejak menghadap Sultan.

Para Putra Adipati tidak ada yang berani menggantikan kedudukan ayahnya sebelum mendapat ijin dari Kanjeng Sultan Hadiwijoyo di Pajang.

Menyadari kesalahannya yang menyebabkan wafatnya Adipati Wargo Hutomo I, Sultan Hadiwijoyo mengutus Tumenggung Tambakbaya mengirimkan surat kepada Keluarga Adipati Wargo Hutomo I di Wirasaba yang isinya mengharapkan kehadiran salah satu putra Adipati Wargo Hutomo I untuk menghadap Sultan. Namun demikian tidak satupun dari putra Adipati Wargo Hutomo I yang bersedia menghadap Kanjeng Sultan Hadi Wijoyo. Hal ini dikarenakan disamping duka akibat peristiwa terbunuhnya ayahandanya belum sepenuhnya hilang, muncul pula perasaan khawatir bilamana ternyata mendapat perlakuan serupa.

Akhirnya Tumenggung Tambakbaya meminta Joko Kaiman (menantu Adipati) untuk memenuhi panggilan Sultan menghadap ke Pajang. Atas persetujuan Saudara-saudara iparnya, berangkatlah Joko Kaiman menghadap Sultan Hadiwijoyo di Pajang.

Sesampainya di Pajang, Sultan menjelaskan duduk permasalahan hingga Adipati Wargo Hutomo terbunuh dan menyampaikan permohonan maaf kepada semua putra Adipati dan masyarakat Wirasaba. Dalam kesempatan itu pula, Sultan Hadiwijoyo mengangkat Joko Kaiman menjadi Bupati Wirasaba menggantikan Adipati Wargo Hutomo I, yang kemudian bergelar Adipati Wargo Hutomo II.

Menyadari statusnya hanya sebagai putra menantu, maka demi menjaga keutuhan keluarga, setelah diangkat menjadi Bupati, Joko Kaiman (Wargo Hutomo II) mengeluarkan kebijakan yaitu membagi Kabupaten Wirasaba menjadi 4 (empat) Kabupaten Kecil untuk saudara-saudara iparnya, yaitu :

Kabupaten Wirasaba diserahkan kepada Kyai Ngabei Wargo Wijoyo ;
Kabupaten Merden, deserahkan kepada Kyai Ngabei Wiro Kusumo ;
Kabupaten Banjar Petambakan kepada Kyai Ngabei Wiroyudo;
Kabupaten Banyumas di Daerah Kejawar dipimpin sendiri oleh Wargo Hutomo II.
Kebijakan ini disetujui semua saudara iparnya dan mendapatkan ijin dari Sultan Pajang. Karena kebijakannya membagi Daerah Kabupaten Wirasaba menjadi 4 (empat) Kabupaten tersebut, Kyai Adipati Wargo Hutomo II mendapat julukan Adipati Mrapat.

Peristiwa tersebut merupakan awal adanya pemerintahan Kabupaten Banjar Petambakan, cikal bakal Kabupaten Banjarnegara.

Kabupaten Banjar Petambakan
Kyai Ngabehi Wiroyudo merupakan Bupati Banjar Petambakan pertama yang memerintah pada ± Tahun 1582 (melihat pendirian Pendopo Kabupaten Banyumas di Kejawar oleh Wargo Hutomo II, yang merupakan salah satu pecahan dari Kabupaten Wirasaba tercatat tahun 1582).

Namun siapa pengganti Kyai Ngabei Wiroyudo sampai R. Ngabehi Banyakwide diangkat sebagai Kliwon Banyumas yang bermukim di Banjar Petambakan tidak diketahui, karena tidak ada/belum ditemukan sumber/ catatan tertulis. Ada kemungkinan Kabupaten Banjar Petambakan dibawah Kyai Ngabei Wiroyudo tidak berkembang (tidak lestari) seperti halnya Kabupaten Merden yang diperintah R. Ngabei Wargawijaya dan Kabupaten Wirasaba yang diperintah oleh R. Ngabei Wirakusuma. Tidak demikian halnya halnya dengan Kabupaten Banyumas (Daerah Kejawar) dibawah pemerintahan R. Adipati Wargo Hutomo II yang dapat bertahan dan terus berkembang.

R. Banyakwide adalah putra R. Tumenggung Mertoyudo (Bupati Banyumas ke 4). Dari sini terlihat bahwa selama 3 (tiga) periode kepemimpinan Bupati di Kabupaten Banyumas (setelah Wargo Hutomo II) sampai dengan Bupati ke 4 (R.T. Mertoyudo), Kabupaten Banjar Petambakan tidak tercatat ada yang memerintah.

Karena cukup lama tidak ada yang memerintah, maka setelah diangkatnya R. Banyakwide sebagai Kliwon Banyumas tetapi bermukim di Banjar Petambakan, ada yang menyebut Banyakwide adalah Bupati Banjar Petambakan Pertama setelah Pemerintahan Ngabehi Wiroyudo.

R. Banyak Wide mempunyai 4 (empat) putera, yaitu:

Kyai Ngabei Mangunyudo;
R. Kenthol Kertoyudo;
R. Bagus Brata;
Mas Ajeng Basiah.
Sepeninggal R. Banyakwide Kabupaten Banjar Petambakan diperintah oleh R. Ngabei Mangunyudo I yang kemudian dikenal dengan julukan Hadipati Mangunyudo Sedo Loji (Benteng), karena beliau gugur di loji saat perang melawan Belanda di Kartosuro.

Kebenciannya terhadap Belanda ditunjukkan sewaktu ada geger perang Pracino (pecinan) yaitu pemberontakan oleh bangsa Tionghoa kepada VOC saat Mataram dipimpin Paku Buwono II.

R. Ngabehi Mangunyudo I sebagai Bupati manca minta ijin untuk menghancurkan Loji VOC di Kartasura. Paku Buwono II mengijinkanya dengan satu permintaan agar R. Ng. Mangunyudo tidak membunuh pasangan suami istri orang belanda yang berada di loji paling atas.

Akhirnya perang sengitpun terjadi antara pajurit Mangunyudo I dengan pasukan VOC (tahun 1743). Melihat prajuritnya banyak yang tewas, Adipati Mangunyudo I sangat marah, seluruh penghuni loji dibunuhnya, bahkan beliau lupa pesan Sri Susuhunan Pakubuwono II. Melihat masih ada orang Belanda yang masih hidup di bagian paling atas Loji, R. Mangunyudo I mengejarnya dan berusaha membunuh pasangan suami istri orang Belanda, yang sebenarnya adalah Pakubuwono II dan Permaisuri yang sedang menyamar. Merasa terancam jiwanya, Pakubuwono II akhirnya membunuh Adipati Mangunyudo I yang sedang kalap di Loji VOC tersebut. Sebab itulah kemudian Adipati Mangunyudo I dikenal dengan sebutan Adipati Mangunyudo Sedo Loji.

Kabupaten Banjar Watu Lembu
a. Berdasarkan sumber/buku “Inti Silsilah dan Sejarah Banyumas”
Setelah Adipati Mangunyudo I wafat, disebutkan bahwa pengganti Bupati Banjar Petambakan adalah puteranya yang bergelar R. Ngabei Mangunyudo II, yang dikenal dengan R. Ngabei Mangunyudo Sedo Mukti.

Di era kepemimpinannya, Kabupaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu dengan nama Kabupaten Banjar Watu Lembu (Banjar Selo Lembu).

R. Ngabei Mangunyudo II merupakan Bupati Banjar Watu Lembu Pertama, yang kemudian digantikan oleh puteranya, bergelar Kyai R. Ngabei Mangunyudo III yang kemudian berganti nama menjadi Kyai R. Ngabei Mangunbroto, Bupati Anom Banjar Selolembu. Masih dari sumber yang sama, R. Ngabei Mangunbroto wafat karena bunuh diri.

Penggantinya adalah R.T. Mangunsubroto yang memerintah Kabupaten Banjar Watulembu sampai tahun 1931.

Karena Kabupaten Banjar Watulembu sangat antipati terhadap Belanda, maka setelah perang Diponegoro dimana kemenangan dipihak Belanda, Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan statusnya menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabei Mangunsubroto dan R. Ng. Ranudirejo.

Berdasarkan sumber “Register Sarasilah Keturunan R. Ngabei Banyakwide dan Register Catatan Legenda Riwayat Kanjeng Sunan Giri Wasiyat, Kyai Panembahan Giri Pit, Nyai Ageng Sekati”
Dalam sumber tersebut disebutkan bahwa yang menggantikan Mangunyudo I adalah R. Ngabehi Kenthol Kertoyudo yang kemudian bergelar R. Ngabei Mangunyudo II. Dalam perang Diponegoro lebih dikenal dengan R. Tumenggung Kertonegoro III atau Mangunyudo Mukti.

Pada masa pemerintahannya, Kabupaten dipindahkan ke sebelah Barat Sungai Merawu dan kemudian dinamakan Kabupaten “Banjar Watulembu”.

Sikap Adipati Mangunyudo II yang sangat anti terhadap Belanda dan bahkan turut memperkuat pasukan Diponegoro dalam perang melawan Belanda (dimana perang tersebut berakhir dengan kemenangan di pihak Belanda), berakibat R. Ngabei Mangunyudo II dipecat sebagai Bupati Banjar Watulembu, dan pada saat itu pula  status Kabupaten Banjar Watulembu diturunkan menjadi Distrik dengan dua penguasa yaitu R. Ngabei Mangun Broto dan R. Ngabei Ranudirejo.

Terlepas sumber mana yang benar, para pemimpin/ Bupati Banjar mulai Mangunyudo I sampai yang terakhir Mangunsubroto atau Mangunyudo II, semuanya anti penjajah Belanda.

Kabupaten Banjarnegara
Karena selama perang Diponegoro dapat mengatasi pasukan Pangeran Diponegoro yang dibantu oleh pasukan dari Kabupaten Banjarwatulembu dan dianggap berjasa kepada Kerajaan Mataram (pada waktu itu terdapat ikatan perjanjian dengan Belanda), Raden Tumenggung Dipoyudho IV yang pernah menjabat Ngabei di Purbolinggo dan kemudian diangkat menjadi Tumenggung Ayah selama 25 tahun, oleh Belanda diusulkan kepada Sri Susuhunan Paku Buwana VII untuk ditetapkan menjadi Bupati Banjar (Banjar Watulembu).

Setelah mendapat ijin, maka berdasarkan Resolutie Governeur General Buitenzorg tanggal 22 Agustus 1831 Nomor I, maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV resmi menjabat Bupati Banjar Watulembu.

Beberapa saat setelah pengangkatannya, Raden Tumenggung Dipoyudho IV meminta ijin kepada Paku Buwana VII di Kasunanan Surakarta untuk memindahkan kota kabupaten ke sebelah selatan Sungai Serayu. Setelah permintaan tersebut dikabulkan, maka dimulailah pembangunan kota kabupaten yang semula berupa daerah persawahan.

Untuk mengenang asal mula Kota Kabupaten baru yang berupa persawahan dan telah dibangun menjadi kota, oleh Raden Tumenggung Dipoyudho IV, Kabupaten Baru tersebut diberi nama “BANJARNEGARA” (mempunyai maksud Sawah = Banjar, berubah menjadi kota = negara) sampai sekarang.

Setelah segala sesuatunya siap, Raden Tumenggung Dipoyudo IV sebagai Bupati beserta semua pegawai Kabupaten pindah dari Banjar Watulembu ke Kota Kabupaten yang baru Banjarnegara.

Dikarenakan  pada saat pengangkatannya status Kabupaten Banjar Watulembu yang terdahulu telah dihapus, maka Raden Tumenggung Dipoyudho IV dikenal sebagai Bupati Banjarnegara I (Pertama).

Peristiwa Pengangkatan Raden Tumenggung Dipoyudho IV pada tanggal 22 Agustus 1831 sebagai Bupati Banjarnegara inilah yang dijadikan dasar untuk menetapkan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara, yaitu dengan Keputusan DPRD Kabupaten Dati II Banjarnegara tanggal 1 Juli 1981 dan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Banjarnegara Nomor 3 Tahun 1994 Tentang Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara.

Para Bupati yang Telah Berjasa Dalam Pembangunan Kabupaten Banjarnegara
I)    1. Nama / Gelar        :  K.R.T. Dipoyudho IV
2. Masa Jabatan        : 1831 – 1846
3. Riwayat singkat    :  ketika kecil bernama Kadirman, kemudian menjadi Mantri Anom dan oleh Kanjeng Susuhunan Paku Buwana IV dianugerahi nama Atmo Sukaryo. Sebelum menjadi Bupati Banjarnegara pernah diangkat menjadi Ngabei di Purbolinggo selama 3 tahun, bergelar Dipoyudho IV selanjutnya diangkat menjadi Bupati Ayah selama 25 tahun.

II)   1. Nama/Gelar          :  K.R.T.  Dipodiningrat
2. Masa Jabatan        :  1846 – 1878
3. Riwayat singkat    :  Putra R.T. Dhipoyudo IV Wafat tahun 1878 dan dimakamkan di belakang Masjid Agung Banjarnegara.

III)  1. Nama/Gelar          :  K.R.T. Joyonegoro I
2. Masa Jabatan        :  1878 – 1896
3. Riwayat singkat    :  Putra R.T. Kalapaking,  Bupati Panjer yang waktu muda bernama R. Atmodipura. Sebelumnya pernah menjabat Patih Purworejo. Dari Pemerintah Belanda mendapat Ganjaran pangkat “Adipati” dan Bintang Mas. Wafat Tahun 1896, dimakamkan di Kuwondo Giri (Blambangan, Banjarnegara).

IV)  1. Nama/Gelar          : K.R.T. Joyonegoro II
2. Masa Jabatan        : 1896 – 1927
3. Riwatyat singkat   :  Putra R.T. Joyonegoro I, waktu muda bernama R.M. Joyomiseno Pernah menjabat Wedana Singamerta. Dari Pemerintah Belanda mendapat Ganjaran  pangkat “Adipati Arya”, Payung emas, Bintang Emas Besar Officer Oranye. Pensiun pada tahun 1927.

V)   1. Nama/Gelar          :  Kanjeng Raden Adipati Ario Sumitra Kalapaking Purbonegoro
2. Masa Jabatan        :  1927 – 1949
3. Riwayat singkat    :  Mendapat anugerah dari Pemerintah Belanda “Tumenggung Aria”. Beliau mengalami tiga peralihan kekuasaan : Belanda, Jepang dan Republik Indonesia dengan tiga sebutan pula : Kanjeng Gusti Bupati, Bandara Ken- Cho, dan Bapak Bupati.

VI)      1. Nama/Gelar          :  Raden Sumarto
2. Masa Jabatan        : 1949 – 1959
3. Riwayat singkat    :  Menjabat Bupati Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Banjarnegara. Wafat tahun 1980, dimakamkan di makam Bergota, Candilama Semarang.

VII)     1. Nama/Gelar          :  Mas Soejirno
2. Masa Jabatan        :  1960 – 1967
3. Riwayat singkat    : Lahir di Sokaraja Wetan tgl 15 Desember 1911. Pendidikan MULO tahun 1930.

VII)     1. Nama/Gelar          : Raden Soedibjo
2. Masa Jabatan        :  1967 – 1973
3. Riwayat singkat    : Lahir di Karangjambu Purwokerto tanggal 12 Maret 1923. Sebelumnya menjabat Komandan KODIM 0704

IX)      1. Nama/Gelar          : Drs. Soewadji
2. Masa Jabatan        :  1973 – 1980
3. Riwayat singkat    :  Pendidikan APDN Malang tahun 1952, Doktoral Sospol Universitas Negeri Yogyakarta tahun 1966. Sebelumnya menjabat Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Dati II Magelang.

X)          1. Nama/Gelar          : Drs. Winarno Surya Adisubrata
2. Masa Jabatan        :  1980 – 1986
3. Riwayat                 : Lahir di Sala tanggal 14 Oktober 1936. Pendidikan APDN Malang tahun 1959, Doktoral Fakultas Sospol Universitas Hasanudin Makassar tahun 1963. Sebelumnya menjabat Bupati Demak.

XI)      1. Nama/Gelar          :  H. Endro Suwaryo
2. Masa Jabatan        :  1986 – 1991
3. Riwayat Singkat    :  Pendidikan Institut Pendidikan Guru (IPG) Tahun 1964. Sebelumnya menjabat Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat Kanwil Depdikbud Propinsi Jawa Tengah.

XII)     1. Nama/Gelar          :  Drs. H. Nurachmad
2. Masa  Jabatan       :  1991 – 2001
3. Riwayat singkat    :  Lahir di Kendal, tanggal 3 Mei 1940, Pendidikan Fakultas Ekonomi UGM tahun 1970. Sebelumnya menjabat Sekretaris Wilayah Daerah Kabupaten Dati II Kendal.

XIII)    A.   1. Nama/Gelar          : Drs. Ir. H. Djasri, MM, MT
2. Jabatan                 : Bupati Banjarnegara
3. Masa Jabatan        :  2001 – 2006
4. Riwayat singkat    :  Lahir di Demak tanggal 2 Desember 1955. Riwayat pendidikan : IKIP Semarang (S1) tahun 1983, Teknik Sipil Unwiku Purwokerto (S1) tahun 1994, Magister Manajemen SDM Universitas Jenderal Soedirman (Pasca Sarjana) tahun 1999, Magister Teknik Universitas Diponegoro (Pasca Sarjana) tahun 2005. Sebelumnya pernah menjabat Kepala Dinas PU Kab. Banjarnegara dan Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kab. Purbalingga.

B.   1. Nama/Gelar          :  Drs. H. Hadi Supeno, M.Si.
2. Jabatan                 :  Wakil Bupati Banjarnegara
3. Masa Jabatan        :  2001 – 2006
4. Riwayat singkat    :  Lahir di Banjarnegara tanggal 14 Aplil 1959. Pendidikan IKIP Yogyakarta (S1) tahun 1984, Magister Administrasi Publik UGM (Pasca Sarjana) tahun 2001. Sebelumnya menjabat Kasubdin Sekolah Lanjutan dan Menengah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Magelang.

XIV)    A.   1. Nama/Gelar          : Drs. Ir. H. Djasri, MM, MT
2. Jabatan                 : Bupati Banjarnegara
3. Masa Jabatan        :  2006 – 20011
4. Riwayat singkat    :  Lahir di Demak tanggal 2 Desember 1955. Riwayat pendidikan : IKIP Semarang (S1) tahun 1983, Teknik Sipil Unwiku Purwokerto (S1) tahun 1994, Magister Manajemen SDM Universitas Jenderal Soedirman (Pasca Sarjana) tahun 1999, Magister Teknik Universitas Diponegoro (Pasca Sarjana) tahun 2005. Sebelumnya pernah menjabat Kepala Dinas PU Kab. Banjarnegara dan Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kab. Purbalingga dan Bupati banjarnegara masa jabatan 2001-2006.

B.   1. Nama/Gelar          :  Drs. Soehardjo, MM
2. Jabatan                 :  Wakil Bupati Banjarnegara
3. Masa Jabatan        :  2006 – 2011
4. Riwayat singkat    :  Lahir di Banjarnegara tanggal 17 September 1956. Pendidikan APDN Semarang tahun 1981, Magister Managemen AUB (Pasca Sarjana) tahun 2006. Sebelumnya menjabat Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Banjarnegara.

sumber: http://banyumasnews.com/11735/sekilas-babad-dan-sejarah-hari-jadi-kabupaten-banjarnegara/
Description: SEJARAH BANJARNEGARA
Reviewer: Unknown
Rating: 4.0
ItemReviewed: SEJARAH BANJARNEGARA

Tidak ada komentar:

Apakah blog ini membantu?

Networking Area